Pengertian dan Macam-macam Strategi Pengembangan Produk

Ada banyak strategi pengembangan produk yang bisa dimanfaatkan sekarang namun semuanya bergantung sama pendekatan yang digunakan.

Selain itu, strategi ini kembali ke jenis produk yang dipasarkan apakah itu produk lama dengan target pasar yang baru.

Atau mungkin produk baru yang ingin menjangkau pasar tertentu dengan segmen audiens atau konsumen yang spesifik.

Baik produk baru atau produk lama, semua kembali ke perusahaan itu sendiri apakah ingin mengadaptasi produk tersebut atau buat inovasi baru.

Hanya saja, keduanya tetap diperlukan strategi pengembangan produk yang jelas. Poin inilah yang jadi alasan mengapa artikel dibuat.

Karena itu, untuk anda yang sedang cari cara analisis strategi pengembangan produk, definisi pengembangan produk sampai contoh strategi pengembangan produk, simak artikel ini sampai habis.

Apa itu Strategi Pengembangan Produk?

Strategi produk, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], berarti strategi pengembangan produk baik itu produk lama ataupun baru, serta penarikan produk yang tidak laku.

Sederhananya, strategi pengembangan produk adalah suatu metode atau tindakan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendorong penetrasi produk di pasar.

Dalam konteks yang lebih teknis, bisa diartikan sebagai upaya memodifikasi produk yang sudah ada untuk menciptakan market size baru di pasar.

Hanya saja, secara teori, ia lebih fokus pada pengembangan produk baru, yang didalamnya melibatkan strategi apa yang harus dilakukan perusahaan agar produk itu bisa bersaing.

Strategi tersebut tentu saja harus dirancang sebagus mungkin mulai dari proses produksi sampai distribusi kepada pelanggan.

Tiap alurnya butuh strategi khusus sehingga bisa dapat atensi lebih dari calon pelanggan. Apalagi produk baru, yang belum dikenal masyarakat.

Lantas, mengapa strategi macam ini diperlukan dalam satu bisnis? Alasannya sederhana yakni agar produk itu laku di pasar yang sudah ditargetkan.

Dengan demikian, tidak boleh sembarangan kembangkan produk tanpa riset pasar yang jelas dan tanpa tahu market sizenya dimana.

Termasuk masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi sebelum dan sesudah produk itu diluncurkan.

FYI, diatas sudah saya singgung soal alur proses produk yang bisa dipahami sebagai tahapan pengembangan produk.

Dan sejauh ini, ada beberapa tahap yang bisa digunakan saat produk itu dikembangkan, yakni:

  • Paling pertama adalah mengembangkan ide yang didalamnya melibatkan brainstorming seperti mengapa calon konsumen mau beli produk tersebut? Dan pertanyaan lain yang relevan terkait produk
  • Kedua, memilah strategi mana yang paling manjur pada kue pasar yang ditargetkan. Artinya, tim pengembangan produk harus bisa menentukan ide mana yang bakalan berhasil sesuai dengan braistorming yang dilakukan
  • Ketiga, membuat propotipe atau cetak biru dari produk yang mau dibuat. Prototipe ini bisa digunakan untuk menentukan apakah produk bakal menarik bagi calon konsumen atau sebaliknya
  • Keempat, melakukan analisis pasar dimana produk akan dipasarkan. Dengan demikian, diperlukan riset mendalam dan evaluasi kemungkinan masalah yang akan dihadapai saat produk mulai di pasarkan
  • Kelima, pembuatan produk dengan menggunakan prototipe yang ada termasuk pertimbangan tambahan yang diperlukan setelah analisis dilakukan
  • Keenam, melakukan uji coba produk di pasar tertentu. Artinya, sebelum produk itu benar-benar di rilis, ia harus di pasarkan dulu dalam market yang kecil atau sekelompok orang. Ini penting untuk mendapatkan umpan balik dari pelanggan dan efektivitas pemasaran yang dilakukan
  • Terakhir atau ketujuh adalah komersialisasi terlebih jika produk itu berhasil saat pengujian atau setidaknya ada respon positif.

Perhatikan, dalam praktiknya, tahap-tahap diatas jauh lebih kompleks dibanding apa yang sudah saya sebutkan.

Selain itu, untuk sampai di tahap akhir yakni komersialisasi, butuh waktu yang lumayan lama meski bergantung pada jenis produk yang akan dibuat.

Macam-macam strategi pengembangan produk

Lantas, apa saja jenis strategi pengembangan produk yang efektif untuk bisnis? Penasaran, kan? Jika iya, simak artikel ini sampai habis.

1. Temukan ide baru

Paling pertama dan paling penting adalah ide. Dari ide inilah produk bisa direalisasikan keberadaannya secara langsung.

Cara paling mudah untuk menemukan ide baru adalah dengan memodifikasi produk yang sudah ada.

Artinya, anda buat versi baru dari produk lama dengan sedikit perubahan dengan harapan penetrasi produk di pasar meningkat.

Strategi macam ini diperlukan mengingat banyak produk baru yang gagal di pasar karena brandingnya tidak jelas atau strategi pemasaran yang digunakan kurang bagus.

Dengan demikian, sekalipun produk yang dipasarkan itu berguna tapi kalau masih kurang dikenal, bisa membuat produk kurang laris.

Jika memodifikasi salah satu produk yang sudah ada dan fokus pada perubahan strategi pemasaran, secara tidak langsung akan mendorong konsumen lama untuk coba produk baru tersebut.

Dengan kata lain, strategi ini fokus pada peningkatkan fitur sebelumnya yang oleh konsumen dirasa kurang bagus atau yang membuat produk kurang laku.

2. Tingkatkan nilai Produk

Nilai produk, dalam konteks ini, bisa diartikan sebagai nilai tambah untuk produk tersebut yang mungkin jadi salah satu faktor mengapa konsumen membelinya.

Ada banyak cara meningkatkan nilai produk salah satunya dengan menambah value dengan menyertakan jumlah produk yang lebih besar atau menambahkan fitur baru.

Pelanggan baru mungkin tertarik dengan produk tersebut karena manfaat yang didapatkan, sementara pelanggan lama bisa upgrade untuk dapat kompensasi penggunaan yang lebih menguntungkan.

3. Buat versi uji coba

Strategi produk satu ini banyak dimanfaatkan oleh perusahan-perusahaan digital termasuk perusahaan teknologi.

Dimana, ada tawaran untuk coba atau menggunakan versi gratis atau undangan eksklusif kepada pelanggan setia untuk coba versi beta.

Versi gratis atau yang lebih murah dari produk kompetitor bisa meyakinkan pelanggan untuk mencoba produk anda.

Selain itu, anda juga bisa dapat feedback ketika ada pelanggan yang responnya tidak bagus saat first impression sama produk.

Intinya, uji coba produk bisa membantu pelanggan untuk mengetahui manfaat apa yang didapat saat menggunakan produk tersebut.

4. Penyesuaian dan evaluasi

Banyak produk yang dibuat dengan market size untuk kelompok masyarakat tertentu dan wilayah tertentu.

Dengan demikian, ada memberikan keluwesan bagi produk dan pelanggan untuk menciptakan personalisasi produk ala mereka.

Artinya, pelanggan bisa pakai produk itu sesuai dengan kebutuhan atau gaya hidup mereka sehingga ada respon generik bahwa produk anda lebih bagus dibanding milik pesaing.

5. Dorong konversi dengan diskon

Sebagai pemilik produk, anda bisa mendorong pelanggan untuk melakukan pembelian lebih banyak ke produk dengan beragam penawaran atau diskon.

Salah satu contoh paling efektif adalah penawaran paket. Dimana, pelanggan punya keluwesan untuk menggunakan berbagai produk yang sudah ada.

Penawaran paket juga bisa membantu anda memperkenalkan produk-produk buatan anda atau yang pernah dibeli mereka.

Dengan harapan, konversi tidak dilakukan satu kali saja melainkan dua kali atau lebih di masa mendatang.

6. Buat produk baru

Strategi lain yang bisa dicoba adalah dengan memforumalisasikan produk yang lebih baru. Bisa subkategori dari produk yang sudah ada atau versi lainnya.

Dengan harapan, penetrasi salah satu produk bisa naik. Selain itu, pelanggan juga bisa lebih leluasa untuk menggunakan produk yang paling sesuai sama kebutuhan mereka.

Soal ini masih punya kaitan sama poin empat diatas. Dan ini membantu anda untuk memberikan konversi dengan diskon atau penawaran paket yang lebih variatif.

7. Ubah ide

Strategi ini pantas dicoba terlebih jika pasar tidak memberi respon yang baik terkait dengan produk yang anda luncurkan.

Jika pasar kurang respon atas inovasi, perusahaan bisa alokasikan anggaran untuk lakukan penelitian pasar dan penentuan market sizenya.

Soal ini kembali ke fakta bahwa tidak semua ide akan menghasilakn produk yang sukses. Ada kemungkian harus ubah ide dulu agar produk bersaing di pasar.

8. Jangkau pasar yang baru dan lebih luas

Banyak produk yang berhasil dijual di beberapa sektor pasar yang berbeda. Mengapa demikian? Karena jangkauan pasarnya luas dan pasar itu benar-benar baru.

Dengan demikian, salah satu strategi untuk pengembangan produk yang efektif adalah dengan mempertimbangkan untuk memasarkan produk yang sudah ada ke pasar atau demografi berbeda.

Dengan demikian, targeting pasarnya bisa diperluas lagi. Misalnya, jika sebelumnya target pasarnya kelompok sosial, bisa sasar konsumen individual.

Atau mungkin jika sebelumnya target pasarnya individual, bisa targetkan gender, kelompok usia, kebiasaan pengguna sampai geografis tertentu.

Penutup

Jadi, ada tahap atau proses yang harus dilakukan agar produk yang dibuat itu bisa bertahan di pasar yang kompetitif.

Apalagi jika produk yang dipasarkan itu masih baru, belum dikenal masyarakat dan perusahaan tempat dimana produk itu diproduksi belum terlalu dikenal.

Demikian artikel tentang pengertian dan macam-macam strategi pengembangan produk. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Tinggalkan komentar