Psikologi Warna: Pengertian, Sejarah, Efek dan Contoh Penggunaan

Psikologi warna adalah bagian dari teori warna yang secara spesifik mempelajari hubungan warna dengan emosi dan reaksi fisiologis manusia.

Bidang ilmu ini sendiri sudah dipelajari secara ilmiah di kampus dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara warna dan perspesi.

Pengetahuan tersebut kemudian diaplikasikan ke berbagai bidang praktis seperti pengobatan, seni, desain dan seterusnya.

Tapi, apa sih yang dimaksud dengan psikologi warna? Bagaimana sejarahnya? Apa saja efek universal yang dilihat manusia soal warna? Dan bagaimana penggunaan warna dalam kehidupan sehari-hari?

Jika penasaran jawaban dari berbagai pertanyaan dasar diatas, simak artikel dibawah ini sampai habis.

Pengertian Psikologi Warna

Psikologi Warna
Gambar via uxcel.com

Psikologi warna adalah ilmu yang secara spesifik mempelajari konotasi emosional seseorang atau sekelompok orang dengan warna.

Lantas, apa yang dipelajari? Tentu saja hubungan warna terhadap suasana hati, emosi dan perasaan seseorang.

Meski ada banyak faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut mulai dari kebudayaan, kebiasaan, pengalaman dan lain sebagainya.

Contoh sederhana adalah warna yang digunakan seseorang untuk menunjukkan dirinya sedang berduka atau berkabung.

Di Indonesia, cenderung menggunakan warna hitam. Sementara, di China atau Tiongkok, menggunakan warna merah.

Atau mungkin, jika pernah nonton film PK yang diperankan oleh Aamir Khan, dimana salah satu adegannya menunjukkan seorang bersarikan kain putih di kepala sedang menangis didalam bis.

Ternyata, perempuan tersebut adalah janda yang suaminya baru saja meninggal. Dalam masyarakat Hindustan, seseorang yang bersarikan kain putih menunjukkan makna kedukaan.

Baca Juga:

Diatas adalah contoh sederhana bagaimana seseorang menggunakan warna untuk mengekspresikan emosi atau keadaannya.

Tapi, apa sih arti sebenarnya dari psikologi warna? Psikologi warna adalah studi tentang warna dan kaitannya dengan perilaku, emosi dan kecenderungan manusia.

Hal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana warna mempengaruhi kebiasaan seseorang misalnya saat akan membeli sepatu atau pakaian.

Yang jadi pertanyaan adalah, apakah warna sepatu dan pakaian tersebut jadi salah satu alasan orang-orang membeli barang tersebut? Secara langsung, ya.

Dari sini bisa diketahui kalau warna mempengaruhi keputusan seseorang. Artinya, seseorang cenderung lebih suka terhadap warna tertentu dibanding warna lain.

Meski warna tersebut memiliki arti yang berbeda antar orang dan dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk latar belakang pendidikan, jenis kelamin, relasi, agama dan lain sebagainya.

Di bidang bisnis atau pemasaran, warna memainkan peran sentral untuk menciptakan kesadaran dan persepsi merek.

Artinya, jika warna yang dipilih tidak sesuai dengan produk atau brand, akan merusak citranya. Apalagi untuk sesuatu yang sifatnya sentral seperti logo atau konten iklan.

Misalnya, dalam beberapa kasus, teks dan latar belakang yang digunakan pada iklan Billboard tidak kontras sehingga orang-orang sulit membaca pesan yang disampaikan.

Atau mungkin, warna yang digunakan dalam iklan tidak mempresentasikan brand atau produk. Tentu orang-orang akan sulit mengenalinya.

Artinya, dalam bisnis, warna secara tidak langsung akan mempengaruhi cara orang mengenali brand atau cara audiens berpikir soal produk yang dipasarkan.

Pada akhirnya, hal ini memungkinkan orang-orang atau calon konsumen bisa menafsirkan dengan tepat informasi yang terkandum didalamnya.

Sejarah Singkat Psikologi Warna

Psikologi Warna
Gambar via ethos3.com

Pada 1666, ilmuwan Inggris Sir Isaac Newton menemukan bahwa saat cahaya putih murni melewati prisma, ia akan terpisah menjadi warna lain.

Artinya, dalam konteks warna, cahaya adalah sumbernya. Newton juga menemukan bahwa warna memiliki panjang gelombang yang sama dan tidak bisa dipisahkan.

Ia kemudian melakukan eksperimen lanjutan untuk melihat apakah cahaya yang keluar dari prisma bisa digabung dengan cahaya lain untuk membentuk cahaya baru.

Misalnya, anggap saja cahaya pertama yang keluar adalah merah dan kedua adalah kuning. Benar saja, setelah warna cahaya itu digabung akan muncul warna oranye.

Dalam perkembangannya kemudian, campuran warna tersebut akan melahirkan tiga level warna yakni warna primer, warna skeunder dan warna tersier.

Disisi lain, untuk warna cahaya seperti hijau dan magenta atau patma, saat dicampur bersamaan, akan menghilangkan rona sehingga membentuk warna putih.

Terlepas dari kurangnya penelitian di bidang ini, konsep psikologi warna telah menjadi topik yang hangat di bidang pemasaran, seni, desain dan lain sebagainya.

Salah satu alasannya karena warna dapat mempengaruhi suasana hati, perasaan, perilaku dan reaksi fisiologis seseorang.

Hanya saja, perasaan atau persepsi terhadap warna seringkali bersifat pribadi dan subjektif serta dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sudah disebutkan diatas.

Misalnya, warna putih dianggap oleh sebagian negara barat melambangkan kesucian, kepolosan, ketulusan dan kemurnian.

Tapi tidak bagi beberapa banyak negara Timur Tengah dan Asia Selatan yang dijadikan sebagai simbol untuk orang yang berkabung.

Efek Psikologis dari Warna

Psikologi Warna
Gambar via six-degrees.com

Dari definisi diatas sudah diketahui kalau warna tertentu menghasilkan efek psikologis yang berbeda dengan warna lain.

Misalnya, warna merah, oranye dan kuning yang cenderung diasosiasikan atau diartikan sebagai warna hangat atau warna panas.

Mengapa demikian? Karena api dan sumber panas lainnya, matahari misalnya, memancarkan warna tersebut.

Disisi lain, apabila diasosiasikan dengan perilaku dan reaksi fisiologis, ia diartikan sebagai pesan awas, semangat, gairah, enerjik, kreatif dan seterusnya.

Agar jelas, berikut disajikan tabel efek psikologis dari satu warna dengan warna lain, seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini:

Nama warnaEfek universal
PutihBersih, murni, kesederhanaan, netral dan berkabung (di beberapa wilayah di dunia)
KuningKebahagiaan, tawa, riang, optimisme, kelaparan, intensitas, gersang, gurun, kehangatan, frustasi, amarah dan perhatian
OranyeTerjangkau, kreatif, senang, enerjik, antusiasme, kekayaan, kecanggihan, stimulasi dan menyenangkan
MerahTindakan, aksi, gairah, cinta, energi, semangat, darah dan tanda bahaya
PinkLembut, cinta, romantis, agitasi, menenangkan, dan tindakan bersyukur
UnguMahal, misterius, kemakmuran, eksotik, kecanggihan, dan spiritual
BiruBerwibawa, ketenangan, loyalitas, kebijaksanaan, kebenaran, acuh tak acuh, dan bermartabat
HijauPembaharuan, alami, dingin, iri, ketenangan, harmoni, kesuburan, pertumbuhan, penyembuhan dan uang
CokelatTenang, stabilitas, organik, keamanan, kesedihan, alami, serius dan berkabung (di beberapa kebudayaan)
Abu-abuKorporat, praktis, netral, suram dan abadi
HitamKlasik, formal, tebal, jahat, kecerdasan, kedukaan dan kekuasaan

Penggunaan psikologis warna

Psikologi Warna
Gambar via tailwindapp.com

Seperti yang sudah disebutkan diatas yang mana, psikologi warna adalah bidang ilmu yang rumit karena mengulas dan melibatkan banyak aspek.

Aspek-aspek tersebut secara langsung berkontribusi untuk menciptakan efek baik yang berlaku universal atau tidak.

Disisi lain, apabila diterapkan dalam desain atau seni, ada beberapa kombinasi yang umum digunakan untuk memaksimalkan penggunaan psikologi warna, diantaranya:

1. Warna monokromatik

Warna monokromatik merujuk pada penggunaan satu warna dalam berbagai corak sehingga menghasilkan tampilan atau corak yang bersih dan menarik.

Dan jika warna yang dipilih seimbang dan sesuai, akan membentuk efek tenang dan nyaman. Misalnya saat warna biru dan hijau digunakan bersama-sama.

2. Warna Complementary 

Warna Complimentary, yang kadang juga disebut warna gratis, merujuk pada penggunaan dua warna yang kontras satu dengan lain pada roda warna.

Umumnya, kombinasi dari dua warna tersebut terdiri dari warna dingin dan warna hangat sehingga menciptakan efek kontras yang enak dipandang.

3. Skema tiga warna

Skema tiga warna, yang secara teknis disebut analogous color scheme, adalah menggunakan tiga warna dalam jarak yang sama satu dengan lain di sekitar tiga roda warna.

Desain ini umum digunakan di kalangan desainer web dan memungkinkan skema warna yang harmonis satu sama lain.

Selain daftar diatas, ada metode lain yang digunakan untuk memaksimalkan penggunaan warna mulai dari tradik, tetriadik, square dan seterusnya.

Tapi, untuk bisa menggunakan berbagai skema warna diatas, yang kadang juga disebut sebagai harmoni warna, didasarkan pada lingkaran warna atau color wheel.

Penerapan Psikologi Warna

Psikologi Warna
Gambar via uifreebies.net

Psikologi warna sudah diterapkan dalam berbagai bidang mulai dari kesehatan, pemasaran, identitas merek, desain komunikasi visual dan seterusnya.

Agar jelas, berikut disajikan penggunaan dan penerapan ilmu psikologi warna dalam berbagai bidang, diantaranya:

1. Terapi dan pengobatan

Dalam pengobatan tradisional di beberapa tempat seperti Mesir dan China Kuno, sudah menggunakan warna pada kemoterapi.

Oh iya, kadang juga, kemoterapi ini disebut sebagai terapi cahaya, yang saat ini punya istilah lain yakni colorology.

Bidang ini masih digunakan sampai hari ini, yang merupakan tahap awal dari pengobatan holistik atau alternatif, dengan menggunakan beberapa warna di bawah seperti:

  • Merah yang digunakan untuk merangsang tubuh dan pikiran atau untuk meningkatkan sirkulasi
  • Kuning yang dianggap bisa merangsang saraf dan mensucikan tubuh
  • Oranye yang digunakan untuk menyembuhkan paru-paru dan meningkatkan energi
  • Biru yang dipercaya dapat menenangkan tubuh, penyakit dan mengobati rasa sakit
  • Nila yang dianggap bisa meningkatkan masalah kulit

2. Pemasaran dan periklanan

Banyak perusahaan yang menggunakan psikologi warna dalam pemasaran dan periklanan karena alasan yang sudah dipaparkan di atas.

Dan umumnya, warna hanya akan dimainkan untuk beberapa bidang saja, diantaranya:

  • Identitas merek dimana perusahaan memilih satu dari palet warna yang paling merepresentasikan perusahaan. Skema warna yang tepat sangat penting untuk mengekspresikan perspektif atas produk yang akan dibuat nantinya
  • Target pelanggan yang merujuk pada riset pasar bagaimana pelanggan mengasosiasikan atau memandang merk tertentu pada barang. Dengan membuat pilihan warna yang tepat sesuai dengan preferensi warna audiens target, perusahaan bisa meningkatkan pemasaran dan menyusun demografi calon konsumen lebih spesifik lagi
  • Terakhir berkaitan dengan konversi untuk mengukur persentase pelanggan yang melakukan transaksi yang sudah ditetapkan oleh perusahan. Misalnya, dalam kasus, CTA dimana, hanya dengan mengubah warna tombol tersebut bisa meningkatkan konversi

Manfaat mempelajari psikologi warna

pengertian warna
Gambar via venngage.com

Lantas, apa manfaat praktis dalam mempelajari teori warna? Tergantung dimana ia diterapkan. Sebagai contoh, jika digunakan dalam pemasaran dan perusahaan, ada dua manfaat yang diperoleh, seperti:

1. Mendorong produktivitas

Warna tertentu dapat mendorong kinerja seseorang. Artinya, ada orang-orang yang tidak suka melihat warna tertentu di tempat kerja.

Contohnya, warna merah yang dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa warna tersebut bisa membuat seseorang sulit berkonsentrasi.

Ini karena secara psikologis, warna merah sering diasosiasikan dengan tanda bahaya, ancaman, deadline dan lain sebagainya.

Dengan demikian, jika ingin meningkatkan fokus dari karyawan, salah satu caranya adalah dengan mengubah warna dinding kantor atau meja kerja.

2. Mendorong konversi

Ini masih punya kaitan sama poin kedua diatas namun dalam konteks yang lebih spesifik lagi yakni promosi dan penjualan.

Artinya, warna dapat membuat seseorang, calon konsumen dalam hal ini, untuk memutuskan apakah membeli produk dari perusahaan atau tidak.

Dengan demikian, memilih warna yang cocok untuk produk bisa meningkatkan persentase penjualan atas produk itu sendiri.

Dan ini merupakan salah satu strategi pemasaran yang efektif karena dengan warna anda bisa tahu segmentasi pelanggan mulai dari usia dan jenis kelaminnya.

Misalnya, warna merah muda yang cenderung disukai oleh wanita dan abu-abu yang sering disukai oleh pria.

Penutup

Sadar atau tidak, warna memainkan peran penting dalam menyampaikan informasi, membentuk emosi tertentu dan mempengaruhi keputusan yang dibuat.

Preferensi warna juga memberikan pengaruh pada objek yang dipilih untuk dibeli, pakaian yang dikenakan dan cara memahami lingkungan.

Intinya, warna dapat mempengaruhi psikologis seseorang secara langsung. Dan inilah yang jadi objek utama dari psikologi warna.

Hanya saja, ada banyak faktor yang mempengaruhi warna mulai dari budaya, kebiasaan, adat istiadat, pengalaman individu dan lain sebagainya.

Artinya, masih diperlukan penelitian lebih lanjut soal topik ini, untuk melihat apakah warna memang punya pengaruh yang besar pada psikologis seseorang.

Demikian artikel tentang psikologi warna termasuk sejarah, fungsi, penggunaan dan contoh. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Tinggalkan komentar