3 Jenis Perubahan Dalam Organisasi Dan Contohnya

7 Likes Comment
3 Jenis Perubahan Dalam Organisasi Dan Contohnya

Secara umum, ada 3 jenis perubahan dalam organisasi. Perubahan itu kemudian dipahami sebagai transformasi. Dalam konteks transformasi organisasi dikenal 3 aspek dasar, yakni:

  • Cultur transformation
  • structure transformation
  • Development change

Hanya saja, perubahan yang dimaksud itu tidak terjadi secara langsung dan definitif. Dengan kata lain, perubahan yang paling cocok dilakukan oleh satu organisasi adalah transformasi.

Mengapa harus bertransformasi? Bukankah ada alternatif lain seperti misalnya evaluasi, re-evaluasi atau penegasan visi dan misi kembali?

Jawabannya sederhana karena dalam konteks perubahan, tidak dikenal istilah alternatif. Satu-satunya cara untuk berubah adalah dengan bertransformasi. Meski proses transformasi ini cukup berat dan terkadang membosankan.

Dan dalam proses transformasi organisasi itu sendiri, terdapat tiga unsur yang harus dibenahi secara perlahan [transformatif]. Unsur-unsur inilah yang akan dibahas di artikel ini.

3 Jenis Perubahan Dalam Organisasi Dan Contohnya

Nah tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan 3 jenis perubahan dalam organisasi beserta contohnya. Lantas, perubahan apa saja itu? Berikut artikelnya untuk anda.

1. Transformasi struktur

Perancangan struktur organisasi yang efektif dan efisien merupakan satu tuntutan organisasi dalam rangka menciptakan perubahan.

Melalui strategi organisasi yang dirancang tersebut, organisasi bisa adaptatif dan responsif mengikuti gejolak lingkungan yang selalu berubah.

Begitu banyak organisasi, baik organisasi bisnis maupun sosial-politik, merancang ulang strategi organisasinya.

Harapannya, agar tujuan organisasi bisa berjalan lebih efektif dan efisien. Sebab, sebuah struktur organisasi harus mengacu pada tujuan, berdasarkan program, sesuai dengan sifat organisasi, mengoptimalkan sumber daya dan disesuaikan dengan jaringan kelembagaan yang ada (Hukum Struktur Organisasi).

Dengan kata lain, struktur organisasi harusnya mampu melibatkan seluruh entitas dalam organisasi untuk mengembangkan keahliannya secara spesifik dan produktif agar tujuan organisasi bisa tercapai.

Struktur organisasi birokratis yang ketat dengan hierarki dan garis pelaporan tanggung jawab yang kaku, yang selama ini berlaku di sebagian besar lembaga, sudah saatnya ditinggalkan.

Sebaliknya, struktur organisasi yang flat dengan manajemen partisipatif akan meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan.

Dengan kata lain, ciri struktur organisasi hierarkis dan birokratis yang sangat panjang hendaknya diubah ke arah struktur organisasi yang pipih.

Struktur baru ini mengisyaratkan bahwa pengawas pada lini pertama yang terpusat pada satu orang diganti dengan tim yang bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Bidang-bidang dan koordinator bidang yang ada sebaiknya diganti redaksi katanya menjadi Biro dengan satu ketua biro.

Baca Juga : Definisi Kepemimpinan Dan Fungsi Pokoknya

Yang pada akhirnya berperan sebagai fasilitator untuk menggerakan dan mendayagunakan segala sumber daya yang ada secara partisipatif dan bukan bertindak sebagai mandor lapangan saja.

Seringkali kita dihadapkan pada situasi saling menunggu dalam struktur yang terlalu kaku. Misalnya biro (bidang. red) harus menunggu keputusan dan kebijakan koordinator biro (bidang. red).

Sementara koordinator biro (bidang. red) menunggu keputusan dan kebijakan rapat dewan pengurus bahkan lebih lama lagi bila semuanya bergantung dan menunggu pada keputusan dan kebijakan Ketua.

Akibatnya, terjadi ketergantungan pada satu figur yang dianggap segala tahu dan segala bijak, yang mungkin saja tidak memberi dampak apa-apa bagi organisasi.

Secara umum, pada segi transformasi kultur ini, ada beberapa hal yang harus dibenahi, seperti:

Struktur lamaStruktur baru
Struktur organisasi yang ‘gemuk’Struktur flat dan cenderung ramping
Sistem hierarki dan birokrasi yang terlalu panjang baik pada pengambilan keputusan maupun operasionalTidak mengenal sistem hierarki dan birokrasi yang panjang untuk memperlancar fungsi dan kinerja organisasi
Konservatif dalam pola pemikiranMengandalkan intelektualitas
Cenderung feodalistikBersifat egalitarian
Cenderung elitis dalam gerak dan aktivitasnyaMenyeimbangkan antara fungsi-fungsi organisasi dalam kesehariannya
Reaktif dalam pengambilan sikapProaktif dalam permasalahan
Orientasi program kerja yang monotonOrientasi problema lebih andragogik dan partisipatoris
Cenderung lebih banyak retorika daripada bertindak secara konkritBerfungsi sebagai organisasi pemberdayaan

Sebagai catatan, struktur organisasi yang akan dipakai janganlah mengadopsi struktur dari lembaga lain yang dianggap berhasil.

Karena sebuah struktur yang sepintas berhasil meningkatkan dan mengefektifkan kinerja kepengurusan tidak selamanya berhasil bagi organisasi lain.

Penerapan yang dangkal, sekedar mengadopsi atau meniru tanpa adanya penggalian strategi, fungsi, manfaat serta tantangan semangat zaman, dapat dipastikan bahwa struktur itulah yang menyebabkan organisasi selalu berjalan ditempat.

2. Transformasi kultur

Kultur atau budaya adalah hal yang terbentuk dari kebiasaan (habits) yang selalu dilakukan dan secara terus menerus dan terbentuk dari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan keinginan (desire).

Agar lebih mudah dipahami, berikut penjelasan lengkapnya untuk anda:

  • Pengetahuan adalah paradigama teoritis, berkaitan dengan hal yang harus dilakukan beserta alasan rasionalnya
  • Keterampilan adalah cara bagaimana mengoperasionalkan hal yang harus dilakukan tersebut
  • Keinginan adalah motivasi atau hal yang mendorong untuk ikut melakukan sesuatu

Dan untuk membuat sesuatu hal menjadi kebiasaan dalam hidup, kita harus menjalankan tiga hal ini dalam kehidupan sehari-hari (Covey, 1990).

Ketiga unsur kebiasaan inilah yang pada akhirnya membentuk kultur atau budaya. Dalam kaitannya dengan pembentukan kultur organisasi, sangat penting untuk memasukkan prinsip depedensi – independensi – interdependensi. Berikut penjelasannya:

  • Dependensi adalah paradigma ‘anda’. Artinya, ‘karena anda merawat dan mengurusi saya, maka anda datang kepada saya. Jika anda tidak datang merawat dan mengurusi saya, maka saya akan menyalahkan anda atas keburukan dan kerusakan dalam hidup saya.’ Paradigma ini disebut juga dengan paradigma ketergantungan bayi pada orang tuanya.
  • Independensi adalah paradigma ‘saya’ artinya, saya dapat melakukan sesuatu hal, saya bertanggung jawab atas hal tersebut. Saya bisa memenuhi kebutuhan hidup saya karena saya dapat memilih.’ Paradigma ini disebut juga paradigma kebebasan akil-balig pada remaja.
  • Interdependensi adalah paradigma ‘kita’ artinya, kita dapat melakukan sesuatu hal, kita dapat bekerjasama, kita dapat menggabungkan bakat dan kemampuan kita serta menghasilkan sesuatu yang lebih besar bersama – sama’. Paradigma ini disebut juga pradigama kedewasaan.

Menurut Covey (1990) apabila tiga unsur kebiasaan diatas (pengetahuan, ketrampilan dan keinginan) diterapkan secara bersamaan dengan tiga prinsip diatas (dependensi, independensi dan interdependensi) dalam konteks individu maupun tim, akan membentuk kultur yang kuat dan efektif dalam organisasi.

Tentu saja unsur dan prinsip itu harus dijalankan dan dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan organisatoris.

Berikut dijasikan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak membentuk kultur organisasi yang efektif:

Kultur Lama (dengan kebiasaan yang tidak efektif)Kultur Baru (dengan kebiasaan yang efektif)
ReaktifProaktif
Cenderung melakukan suatu hal secara mendadak tanpa diperhitungkan secara matang terlebih dahuluMemulai dengan akhir dari pikiran (menentukan tujuan terlebih dahulu)
Melakukan sesuatu tanpa prioritasMendahulukan hal yang paling utama
Pola pikir menang/kalahPola pikir menang/menang
Meminta orang lain untuk selalu mengerti diri kita tanpa melihat diri sendiri apakah sudah mengerti orang lainMulai belajar untuk memahami orang lain dulu barulah meminta orang lain memahami diri kita
Single-fighter atau terpecah-pecah dalam bekerjaMelakukan sinergi dalam bekerja
Kurangnya budaya belajar dalam organisasiBudaya terus belajar dalam organisasi

3. Transformasi proses dan gaya manajemen

Proses dan gaya manajemen merupakan alat yang efektif mengelola jalannya organisasi. Perlu diketahui juga, pengelolaan organisasi tidak sama seperti pengelolaan pabrik.

Misalnya, yang dengan gampang kita lakukan dengan memencet tombol mana yang diperlukan agar mesin bekerja.

Mengelola organisasi adalah mengelola manusia, mengelola pengetahuan yang ada di dalamnya dan terus menerus membangkitkan semangat para anggotanya.

Untuk itu, dibutuhkan manajemen organisasi yang bisa diterapkan guna mendukung kinerja organisasi. Salah satunya adalah transformasi proses dan gaya manajemen.

Perubahan di dalam organisasi yang harus dilakukan dalam konteks ini adalah perubahan proses dan gaya manajemen organisasi menuju manajemen organisasi yang memperlakukan anggota organisasi sebagai manusia –bukan mesin– dengan meningkatkan keterlibatan anggota secara aktif. Hal ini pada prinsipnya akan meningkatkan apa yang disebut komitmen bersama.

Komitmen bersama merupakan kunci penting keberhasilan sebuah organisasi. Manajemen yang membawa anggota dan pengurus dapat saling mengkomunikasikan kebutuhan dan problem yang dirasakan akan mencairkan segala bentuk kendala yang dihadapi dalam organisasi.

Oleh karenanya, organisasi yang ingin berubah, perlu mengedepankan penghargaan atas proses yang dialami masing-masing individu yang ada didalam organisasi.

Orientasi terhadap proses akan lebih efektif dibandingkan dengan orientasi manajemen yang mengejar target atau hasil dengan cara-cara yang ketat dan kaku sehingga cenderung menghilangkan arti nilai–nilai yang dianut.

Dengan demikian, gaya dan proses yang diterapkan dalam mengelola organisasi tidak boleh terlepas dari visi, misi dan nilai–nilai yang ada.

Penutup

Setiap organisasi perlu melakukan perubahan. Perubahan itu dilakukan agar organisasi tetap eksis dari setiap perubahan yang terjadi dilingkungannya sekaligus menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Hanya saja, dampak dari perubahan yang dilakukan itu tidak bisa diketahui dengan pasti. Dan ini adalah risiko yang harus ditanggung bersama.

Bagi organisasi konvensional, tiga jenis perubahan yang sudah dijelaskan diatas adalah poin-poin yang wajib dijalankan jika ingin bertransformasi.

Demikian artikel tentang 3 jenis perubahan dalam organisasi beserta contohnya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ~

Baca Juga artikel-artikel tentang transformasi organisasi yang ada di blog ini:

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *