6+ Derita Saat Jadi Fotografer Pernikahan di Kampung

32 Likes Comment
foto nikah

Pada dasarnya semua profesi punya tantangan-tantangan tersendiri yang harus dihadapi tak terkecuali saat jadi fotografer pernikahan di kampung-kampung.

Bukan membandingkan dengan yang di kota atau yang nyewa gedung khusus dengan dekorasi bagus.

Tapi kebanyakan acara di kampung itu serba terbatas. Imbasnya, mereka tidak memperhatikan detail-detail kecil, yang justru menyulitkan beberapa orang, termasuk fotografer, orang yang mereka sewa sendiri.

Saya tidak menggeneralisir kalau semua acara pernikahan di kampung begitu, enggak kok. Ini hanya berdasarkan pengalaman beberapa fotografer termasuk saya sendiri.

Perlu diketahui juga oleh anda, setiap aliran atau genre fotografi punya tantangan yang berbeda-beda.

Ada yang harus nyelam agar bisa dapat view bagus, ada yang harus beli kamera kedap air supaya dapat angle yang cocok dan lain sebagainya.

Memilih aliran pun enggak terlalu sulit, tinggal lihat peluang bisnis dan minat anda. Soal kemampuan saya pikir itu basic dan bisa ditingkatkan secara bertahap.

Tapi standar konsumen terus berubah. Karena itu, jika pengen dapat job atau pengen jadi fotografer profesional, kemampuan menggunakan kamera adalah hal pertama dan utama yang harus dimiliki.

Peralatan tambahan juga perlu. Mulai dari kamera hingga studio dengan segala perlengkapannya. Untuk kebutuhan lain, Backdrop atau Lighstand misalnya, bisa disesuaikan alias oposional.

Tapi perjalanan sebagai fotografer itu tidak selalu mulus. Ada tantangan yang harus dihadapi terlebih saat dapat konsumen yang banyak mintanya.

Sudah minta ini itu ujung-ujungnya ingin diskon, harga pelanggan baru katanya, padahal harga yang ditawarkan sudah standar. Malah lebih murah dari yang lain.

Suka duka jadi fotografer itulah yang terkadang bikin anda cekikan sendiri, senyum-senyum gak jelas atau mungkin pengen berhenti jadi fotografer.

Di artikel kali ini saya hendak mengulas tantangan-tantangan yang bakalan dihadapi oleh anda jika dapat klien yang acara pernikahannya diselenggarakan di kampung.

6+ Derita Saat Jadi Fotografer Pernikahan di Kampung

Nah tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan 6 derita saat jadi fotografer pernikahan di kampung. Derita apa saja itu? Pasti penasaran, kan? Berikut artikelnya untuk anda.

1. Banyak Hpgrafer

fotografer pernikahan
via kaskus.co.id

Pernah mengalaminya atau mungkin anda salah satu pelakunya? Mudah-mudahan bukan. Para HPgrafer ada disetiap acara termasuk pesta pernikahan.

Ini wajar sih mengingat rata-rata handphone sudah dilengkapi dengan kamera yang megapixelnya tak jauh beda dengan kamera DSLR.

Yang bikin jengkel ada pada kelakuan mereka yang tidak peduli dan seenak jidat menghalangi fotografer, yang sudah dibayar oleh empunya acara.

Sebagai fotografer, anda tentu dibayar untuk bisa menghasilkan foto yang bagus. Karena inilah yang jadi pekerjaan. Inilah bisnis anda.

Siapa yang tidak kesal coba kalau pekerjaan anda diganggu oleh orang-orang yang seenak jidat.

Misalnya, saat momen akad nikah atau foto bersama, sebagian besar tamu undangan tiba-tiba jadi fotografer dadakan.

Bukan fotografer sih, lebih tepat hpgrafer. Modal kamera hp doang, lalu cengkret sana sini.

Lebih jengkel lagi jumlah mereka yang banyak. Dan saat fotografer benaran mau ambil foto, viewnya terhalangi oleh mereka-mereka. Artinya, ada gangguan didepan.

Bisa berupa kepala muncul tiba-tiba, bayangan berupa siluet, tangan nongol ke atas dan lain sebagainya. Padahal, bisa saja foto tersebut adalah yang paling bagus dari yang lain.

Disini fotografer harus ngalah dan cari angle lain agar bebas dari gangguan entah di pojok kanan atau kiri agar momen itu tetap bisa diabadikan.

2. Tiang pengganggu

fotografer pernikahan
via kaskus.co.id

Selain HPgrafer, gangguan lain yang sering dihadapi saat jadi fotografer pernikahan di kampung adalah benda mati.

Jika gangguan manusia masih bisa diatasi tapi kalau gangguannya seperti yang terlihat pada gambar diatas, kan gak mungkin dihilangkan.

Saya sendiri pernah menjumpai tiang yang posisinya tepat di depan panggung pelaminan. Selain gak enak dipandang, juga merusak kualitas foto.

Yang bikin sedih lagi tiang itu gak bisa dipindah apalagi dihilangkan. Kalau dipindah tentu saja tenda pernikahan bakal ambruk.

3. Ruangan yang sempit

fotografer pernikahan
via kaskus.co.id

Pernah gak ngalamin kejadian seperti ini? Saya yakin pernah. Kebayang gak jika para HPgrafer itu berkumpul di ruangan yang sama?

Dengan kata lain, anda harus desak-desakan sama keluarga, hpgrafer dan lain sebagainya.

Tentu sulit dapat foto yang bagus. Karena memang, fotografer perlu jarak dengan subjek foto. Jika ruangannya sempit, pandangan akan terbatas.

Dan terkadang ada wajah terpotong yang nongol di bagian sudut kiri atau kanan foto yang bikin foto jadi jelek.

4. Warna tenda yang kontras

fotografer pernikahan
via kaskus.co.id

Selanjutnya adalah dekorasi pesta pernikahan yang cukup dominan dengan warna-warna tertentu, merah muda, ungu dan kuning misalnya.

Ini belum lagi dengan terpal yang digunakan sebagai penutup tenda, yang warnanya juga dominan. Lalu apa dampaknya buat fotografer? Buanyak gan.

Misalnya begini, jika resepsinya siang, tentu saja tenda pernikahan akan terpapar dengan sinar matahari. Saat terpapar, terjadi ambient pada lensa kamera.

Baca Juga : Cara Melindungi Foto dan Gambar Karya Anda di Internet

Ini sebenarnya merupakan cahaya berwarna yang timbul dari dalam kamera karena lensa kesulitan menangkap warna kontras.

Coba tebak warna ini berasal dari mana? Apalagi kalau warna-warna cerah tadi. Dan ini menggangu sekali.

Anda juga sulit mengatur kamera agar sesuai dengan kondisi pencahayaan saat itu.

Jika maksa untuk ambil foto, hasilnya didominasi oleh satu warna saja entah itu merah muda, ungu hingga biru

5. Kalau Hujan

fotografer pernikahan
via kaskus.co.id

Tantangan selanjutnya adalah cuaca. Memang sih tidak ada yang bisa meramal apa yang akan terjadi esok harinya.

Hanya saja, mengantisipasi meluapnya air diatas tanah itu perlu terlebih di acara-acara spesial seperti ini.

Dan ini bisa menjadi salah satu derita terbesar bagi setiap fotografer pernikahan terlebih yang dapat job di kampung.

Misalnya begini, saat acara sudah mulai berjalan eh tiba-tiba hujan deras lalu terjadilah banjir disekitar acara pernikahan.

Ini seperti tamu tak diundang. Datang setelah acaranya hampir selesai lalu bikin onar hingga acara bubar.

Namun keadaan ini gak membuat fotografer ikut bubar. Ia harus tetap sigap lakukan tugasnya yang mahaberat dan mahabecek tersebut.

Cekrek sana, cekrek sini, cekrek wajah situ meskipun celananya sudah dilipat sampai lutut takut kena air. Kalau celana masih bisa dilipat.

Coba kalau airnya tergenang sampai ke pinggang? Sayang banget penampilan necis tadi harus rusak.

Mana sepatu sama kaos kaki masih baru lagi, nasib-nasib!

6. Durasi gak menentu

fotografer pernikahan
via rideralam.com

Menjadi fotografer penikahan itu gak kenal waktu. Beda dengan acara resepsi pernikahan kota, hotel atau di gedung-gedung yang durasinya tak lebih dari 5 jam.

Tapi, kalau pernikahan di kampung-kampung atau di desa durasinya tak terbatas. Dari subuh hingga subuh lagi, acara belum selesai.

Mulai dari akad, resepsi hingga acara bersama. Karena itu, fotografer harus tetap stay agar bisa mengabadikan moment demi momen selama pernikahan berlangsung.

Artinya, anda harus rela pergi pagi pulang pagi. Oh iya, rata-rata fotografer pernikahan juga gak ada foto praweding. Yang terpenting acaranya terselenggarakan dengan baik.

Penutup

Seperti yang saya sebutkan diatas, setiap aliran fotografi punya tantangan-tantangan tersendiri tak terkecuali saat anda fokus ke genre fotografi pernikahan.

Sebagai informasi, genre ini masuk dalam kategori photojournalist karena tugas utamanya adalah mengabadikan moment.

Oh iya, jika ada tambahan, masukkan dan kritikan terkait postingan ini, silahkan tinggalkan di kolom komentar.

Demikian artikel tentang 6 derita saat menjadi fotografer pernikahan. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *