Panduan Lengkap Belajar Fotografi Untuk Pemula

23 Likes 4 Comments
Dasar-dasar fotografi

Belajar fotografi itu enggak sulit kok yang terpenting anda belajar ditempat dan orang yang tepat.

Dalam konteks tempat, anda bisa memanfaatkan berbagai referensi yang ada di internet, Youtube atau bergabung dengan komunitas fotografi daring di media sosial.

Sementara, jika ingin belajar fotografi secara langsung, anda bisa ikut kelas fotografi atau bergabung dengan komunitas fotografi yang banyak tersedia saat ini.

Kelas fotografi itu dapat dipelajari secara langsung alias tatap muka atau daring [dalam jaringan]. Tergantung pilihan anda.

Di artikel ini saya enggak membahas hal-hal klise yang sudah banyak diulas orang lain melainkan pada hal-hal yang cenderung teknis.

Dengan kata lain, sebelum jadi fotografer, ada proses yang harus dilalui. Proses belajar itu harus melewati tiga tahap penting, yakni:

  • Mengenal cara kerja kamera
  • Pengaturan eksposur atau paparan cahaya
  • Dan praktik langsung

Dan untuk anda yang ingin belajar fotografi secara otodidak atau ingin memperdalam ilmu fotografi yang dimiliki, baca artikel ini sampai habis.

Panduan lengkap belajar fotografi untuk pemula dari awal sampai mahir

Tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan panduan belajar fotografi untuk pemula dari awal sampai akhir.

Mozaik I: Mengetahui cara kerja Kamera

cara kerja kamera

Kamera adalah pusat dari kegiatan fotografi yang dilakukan. Baik fotografer pemula atau fotografer professional, hal paling utama dan pertama yang harus diketahui adalah cara kerja kamera.

Entah itu kamera DSLR atau kamera VGA berkualitas rendah. Oh iya, cara kerja kamera semuanya hampir sama termasuk kamera ponsel.

Untuk penjelasan lebih detail tentang kamera silahkan baca artikel saya yang berjudul kamera adalah: sejarah, pengertian, jenis dan bagian-bagiannya.

Selain mengenali kamera anda juga wajib mempelajari visualisasi atau keterlihatan objek dari kamera.

Visuaslisasi yang saya maksud disini merujuk pada kemampuan anda melihat subjek dan objek secara imaginer agar kedalaman bidang foto lebih bagus.

Pada materi tentang cara kerja kamera ini anda wajib menguasai, minimal memahami, bagian-bagian yang peranannya sangat penting pada kamera, diantaranya:

1. Lensa kamera

lensa adalah

Lensa kamera adalah kaca pelat cembung atau cekung yang berfungsi sebagai mata kamera ibarat mata manusia.

Dengan lensa, anda bisa menangkap objek atau subjek dengan baik. Meski konteks menangkap ini tetap dipengaruhi oleh banyak hal mulai dari aperture, shutter speed dan ISO yang bakal saya ulas di poin berikutnya.

Lensa, pada dasarnya, berfungsi untuk memfokuskan cahaya yang masuk sebelum akhirnya di kontrol oleh aperture guna mendapatkan paparan yang tepat.

Untuk penjelasan lebih detail tentang lensa kamera sudah saya ulas di artikel saya yang lain dengan judul lensa kamera adalah: pengertian, karakteristik dan fungsi.

2. Aperture atau bukaan

Aperture

Karena lensa bertugas untuk mengkonversi cahaya maka tugas aperture adalah untuk mengontrol dan mengawasi cahaya yang masuk atau keluar.

Dengan pencahayaan yang tepat dan proporsional, objek yang di foto akan terlihat lebih bagus dan menarik begitu juga sebaliknya.

Jika pengen belajar jadi fotografer yang handal, pengetahuan tentang aperture ini adalah hal yang mutlak diketahui.

Pengenalan aperture ini juga mengharuskan anda mengenal aspek lain seperti shutter speed dan ISO yang bakal saya bahas di poin berikutnya.

Tiga elemen inilah yang memungkinkan anda mendapatkan kedalaman bidang yang tepat sekaligus untuk mengurangi efek blur atau gangguan teknis lain selama proses pengambilan foto.

Ingat, sekalipun anda sudah paham cara kerja aperture termasuk kecepatan rana dan ISO bukan berarti proses pembelajaran anda sudah selesai.

Enggak seperti itu. Langkah penting berikutnya yang harus dipelajari adalah bagaimana mengatur kamera secara manual.

Mengapa harus diatur secara manual sih? Bukankah sudah ada pengaturan otomatis? Ya, pengaturan otomatis memang sudah ada di kamera tapi pengambilan foto enggak melulu dilakukan otomatis.

Artinya, beda tempat beda pengaturannya. Karena paparan cahaya pada suatu ruangan itu berbeda-beda, termasuk di luar ruangan.

Dengan kata lain, ada masa dimana anda harus mengatur aperture secara manual guna mendapat paparan yang tepat.

Sebenarnya, pengaturan manual semacam ini sudah disiapkan oleh setiap produsen kamera. Panduan dari produsen itu secara umum dikenal dengan istilah segitiga eksposure.

Segitiga eksposur

Jika segitiga eksposur digabungkan secara bersamaan maka anda bisa mengontrol cahaya yang masuk, mengatur kecepatan rana guna menangkap objek dalam momen yang pas serta mendapatkan nilai ISO yang tepat.

Perlu diketahui, apabila anda mengubah satu pengaturan saja, shutter speed misalnya, berarti anda juga harus mengubah aperture dan ISO. Begitu juga sebaliknya.

Bagi saya pribadi, ada cara paling sederhana untuk memahami cara kerja aperture ini, diantaranya:

a. Lubang lensa

Lubang lensa adalah celah yang memungkinkan cahaya masuk ke dalam kamera. Cara kerjanya sama seperti pupil mata manusia.

Yang berarti, semakin lebar aperturenya maka semakin banyak cahaya yang masuk begitu juga sebaliknya.

b. Menentukan aperture [bukaan]

Bukaan adalah pengaturan awal yang harus ditetapkan lebih dulu sebelum mengambil foto sebab akan mempengaruhi fokus lensa secara langsung.

c. Ingat skala aperture

Yang ketiga adalah mengingat skala yang digunakan. Skala aperture dimulai dari f/stop lalu diikuti dengan skala lain seperti f/1.4, f/2, f/2.8, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22.

Untuk penjelasan lebih detail soal skala aperture ini silahkan baca artikel saya sebelumnya dengan judul aperture adalah: pengertian, fungsi dan penerapan.

2. Kecepatan Rana [Shutter speed]

Shutter Speed

Setelah cahaya melewati lensa, ia akan mencapai rana yang terletak di ujung kamera. Yang berarti, kecepatan rana memungkinkan fotografer untuk mengatur berapa jumlah cahaya yang diizinkan masuk ke dalam kamera.

Misalnya begini, anda ingin agar cahaya masuk hanya sepersekian detik saja. Dalam angka, pengaturan jumlah cahaya yang masuk ini diukur dalam angka satuan, 1/250 misalnya.

Baca Juga : Cara Mengambil Foto Makro Yang Baik dan Benar

Namun, setiap situasi punya pengaturan kecepatan rana sendiri karena dipengaruhi oleh jumlah cahaya yang ada dan kecepatan pergerakan objek atau subjek yang akan di foto.

Agar lebih paham, saya ambil contoh sederhana saja. Misalnya, jika anda mengambil foto pertandingan olahraga, sepakbola misalnya, tentu gerakannya akan sangat cepat kan? Karena pemain bola selalu bergerak aktif atau berlari sampai pertandingan usai.

Oleh karena itu, untuk bisa menghasilkan gambar yang gak kabur anda harus mengatur kecepatan rananya 1/4000 [sangat cepat] sehingga gerakan subjek terlihat melambat di kamera.

Artinya, pengaturan shutter speed ini bergantung pada kondisi subjek dan cahaya yang tersedia pada saat itu.

Karena menyesuaikan sama kondisi dan pencahayaan yang ada maka pengaturan shutter speed untuk fotografi olahraga dan street photography pasti berbeda.

Dalam situasi tertentu, fotografi malam misalnya, pengaturan shutter speed paling ideal adalah 30 detik lebih lambat.

3. ISO

ISO

International Standar Organization [ISO] mungkin agak asing di telinga anda, terlebih fotografer pemula. Namun, perannya sangat penting pada kamera.

Setelah mempelajari kecepatan rana dan aperture, yang semuanya sudah mencapai sensor kamera, pada tahap inilah anda harus mengatur nilai ISO-nya.

Apabila jumlah ISO dinaikkan berarti anda berusaha meningkatkan nilai eksposur. Cara ini baik namun kualitas gambar akan menurun.

Sebagai contoh, pada suatu waktu saya hendak mengambil foto sabana luas di taman Lora Lindu di siang hari dimana matahari sangat cerah.

Aperture dan shutter speednya sudah saya atur sedemikian rupa. Dan kini, tibalah saatnya saya mengatur ISO.

Saat mengatur ISO, saya hanya dua pilihan, yakni:

  • Mengatur skala ISO secara manual yang bertujuan agar hasil fotonya tidak kabur dengan risiko menurunkan kualitas foto jadi lebih kabur
  • Atau bereksperimen dengan cara mengambil foto sebanyak mungkin dalam satu momen. Dengan harapan, ada 1-2 foto yang akan terlihat bagus dan menarik.

Mozaik II: Paparan cahaya [Exposure Summary]

Setelah memahami cara kerja aperture, kecepatan rana dan ISO, langkah selanjutnya adalah mempelajari bagaimana masing-masing elemen ini mempengaruhi hasil foto yang diambil.

Jika anda hendak belajar fotografi entah itu secara daring atau ikut kelas langsung, exposure summary adalah salah satu materi yang wajib dipelajari.

Di mozaik kedua ini akan saya ulas bagaimana mengatur kamera berbasis fstop untuk mengatur paparan cahaya yang masuk.

Cara ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya yang sudah saya ulas diatas. Lantas, bagaimana cara mengatur paparan cahaya yang tepat saat mengambil foto? Berikut caranya.

1. Memahami kamera yang digunakan

Mengetahui cara kerja kamera adalah poin paling utama sebelum memahami kamera yang digunakan. Soal ini sudah saya ulas di poin sebelumnya.

Disatu sisi, ada poin penting lain yang tidak boleh anda lewatkan yakni pengetahuan tentang cara kamera menangkap dan menggunakan cahaya yang ada.

Disinilah momen dimana anda harus menggunakan mode metering agar kamera bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada saat itu.

a. Mode pengukuran [Metering modes]

Mode pengukuran ada di setiap kamera dan biasanya akan terlihat di balik layar LCD. Sebagai contoh, foto dibawah ini diambil menggunakan mode pengukuran spot.

Jika anda mengambil foto yang sama, angle dan tempat yang sama namun mode yang digunakan adalah evaluatif, eskposurnya pasti berbeda.

 

Oleh karena itu, sebaiknya anda paham fungsi eksposur ini lebih dalam lagi sebelum menggunakan kamera.

Saran saya, luangkan waktu sejenak untuk mempelajari metering modes dari berbagai sumber agar pengetahuan anda semakin banyak.

b. Pelajari histogram

histogram kamera

Pada kamera, histogram berfungsi sebagai tinjauan matematis paparan cahaya setelah foto diambil.

Histogram akan memberi tahu anda seberapa meratanya cahaya yang ditangkap lensa pada foto yang akan atau sudah dipotret.

Meski LCD kamera tidak terlalu responsif dan spesifik untuk menjelaskan paparan ini namun informasi yang ditampilkan histogram sudah cukup.

Sebaliknya, agar lebih mahir menggunakan kamera, anda harus bisa membaca histogram karena tinjauan tersebut memungkinkan anda mendapatkan metering yang tepat.

2. Mode pengambilan foto [Shooting modes]

shooting mode on camera

Secara umum, mode pemotretan terbagi menjadi beberapa bagian, seperti:

  • Night mode
  • Sport mode
  • Macro mode
  • Lanscape mode
  • Portrait mode
  • Flash disabled mode
  • Full auto mode
  • Program mode
  • Shutter priority mode
  • Aperture-priority mode
  • Manual mode
  • Dan Movie mode

Sayangnya, banyak fotografer yang tidak memperhatikan atau memanfaatkan setiap mode yang ada.

Untuk mengetahui kapan mode tersebut digunakan, langkahnya cukup sederhana. Minimal, anda tahu fungsi setiap fitur diatas yang disesuaikan sama tujuan anda mengambil foto.

Utamanya, shoting modes ini terbentuk dari beberapa elemen dasar, diantaranya:

a. Kedalaman bidang

Saat anda mengambil foto dengan kondisi pencahayaan yang rendah atau minim, sebaiknya perlebar aperturenya agar cahaya yang masuk cukup.

Namun, seperti yang saya sebutkan diatas, hal ini punya satu efek samping yakni kedalaman bidang akan dangkal.

Sementara, jika anda mengambil fotografi lanskap seperti yang saya lakukan di taman Lora lindu, maka aperturenya harus perkecil.

Tujuannya agar cahaya yang masuk tidak berlebihan sehingga hasil fotonya lebih fokus dan terang.

b. White Balance

pengaturan white balance pada kamera

White balance atau keseimbangan putih adalah bagian penting lain yang harus dipelajari dengan cermat. Sebab, keseimbangan ini mempengaruhi struktur foto secara langsung.

Keseimbangan putih ini juga akan menentukan apakah foto yang dihasilkan terlihat biru atau orange dan dingin atau hangat.

Dengan kata lain, berbicara keseimbangan putih berarti berbicara soal suhu. Suhu ini merujuk pada cuaca dan temperatur pada saat anda mengambil foto.

Kadang memang white balacance ini tidak bekerja maksimal pada pencahayaan tungsten atau kerlap-kerlip.

Makanya, luangkan waktu minimal satu jam untuk mempelajari pengaturan white balance ini di rumah.

c. Focal Length

Focal lenght pada kamera

Pernah gak anda bertanya-tanya, apa sih fungsi mm pada lensa kamera? Atau, mengapa harus menggunakan focal length saat mengambil foto?

Focal length atau panjang fokus ini punya pengaruh yang luar biasa pada perspektif dan juga keterlihatan subjek.

Jadi, sebaiknya pilih focal length yang tepat sesuai dengan kondisi dan situasi tempat anda mengambil foto.

d. Crop faktor

Crop factor camera

Banyak yang tidak menyadari, bahwa sekalipun pengaturan kamera sudah tepat dan sesuai tapi ternyata hasil fotonya enggak bagus, katakanlah buram atau tidak fokus.

Untuk masalah ini, anda bisa lihat sensor crop kamera yang digunakan apakah aktif atau tidak. Jika aktif, silahkan ubah ke pengaturan normal.

Dalam beberapa kondisi, ada kemungkinan sensor kamera yang ada punya ukuran yang lebih kecil dari sensor SLR profesional lain.

Baca Juga : Cara Memperbaiki Foto dan Gambar Yang Sudah Rusak

Lantas, pengaruh crop faktor ini apa? Secara umum, bisa membuat sudut pandang lebih sempit sehingga gambar akan terlihat sedikit lebih kabur.

Di masa mendatang, sensor crop akan mempengaruhi fungsi lensa secara umum karena itu, saran saya, kenali kamera yang digunakan lebih baik lagi.

e. Filter polarisasi

filter polarisasi kamera

Filter ini berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk ke lensa dari arah tertentu. Kadang filter ini bisa memicu pantulan silau dari logam atau benda-benda lain seperti air di danau atau laut.

Dalam beberapa kasus, air dan gelas adalah dua hal yang paling sering terkena dampak filter polarisasi, termasuk kabut atau awan.

Namun, jika anda memotong refleksi ini, foto akan menampilkan warna jenuh yang kadang terlihat lebih alami.

Hal ini tentu saja akan membuat foto terlihat lebih bagus dan menarik. Saran lagi nih untuk anda, pelajari dulu filter polarisasi ini lebih lanjut di rumah.

Mozaik III: Tips mengambil foto yang unik, menarik dan tajam

tips mengambil foto yang bagus
via impactlab.net

Semua yang saya sebutakn diatas tak akan pernah lengkap jika anda tidak mempraktekannya langsung.  Ilmu tanpa aplikasi kan nihil dan jangan jadi tong kosong nyaring bunyinya.

Karena itu, saya punya beberapa tips sederhana yang bisa anda pelajari di rumah. Tips-tips ini tidak terlalu sulit.

Oh iya, sebagian besar tips ini tetap melibatkan pengaturan aperture, shutter speed atau kecepatan rana dan lain sebagainya.

Tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan 7 tips mengambil foto yang unik, menarik dan tajam. Tips apa saja itu? Pasti penasaran kan? Berikut artikelnya untuk anda.

1. Pakai lensa Nifty Fifty

lens the Nifty Fifty

Untuk anda yang masih pemula dalam dunia fotografi, lensa Nifty Fifty mungkin agak asing ditelinga anda.

Lensa ini sangat cocok untuk fotografer pemula. Oh iya, Nifty Fifty ini mengacu pada pengaturan lima puluh per lima puluh, yang merujuk pada pengaturan standar lensa prima 50mm f/1.8.

Di pasaran, harga lensa Nifty Fifty cukup murah ketimbang lensa SLR lain. Jika mau beli lensa tapi low budget silahkan beli lensa yang satu ini.

2. Komposisi
komposisi foto
via furiouscamera.com

Selain lensa, penting juga untuk memahami komposisi. Jika belum menguasai komposisi pasti anda akan kesulitan mendapatkan foto yang unik dan menarik.

Saya sendiri tidak meminta anda untuk mengikuti berbagai aturan komposisi yang lazim digunakan. Penekanan saya ada pada eksperimen yang anda lakukan secara mandiri.

Eksperimen semacam ini memungkinkan anda untuk mengasah kreativitas demi mendapatkan foto yang bagus.

Untuk penjelasan lebih detail soal komposisi sudah saya ulas di artikel saya sebelumnya. Untuk membacanya silahkan klik disini.

3. Aturan pertiga [rule of thirds]
rule of thirds
via companyfolders.com

Aturan pertiga adalah aturan komposisi yang paling mudah dipelajari, terlebih untuk fotografer pemula.

Aturan ini cenderung sederhana tapi efektif. Untuk menerapkan aturan pertiga ini cukup mudah, yakni:

  • Membagi frame kamera menjadi tiga bagian
  • Setelah itu fokuskan kamera pada objek utama ditengah-tengah garis-garis imajiner seperti yang terlihat pada gambar diatas

Meski cukup mudah dilakukan, banyak fotografer pemula yang masih kesulitan menentukan garis-garis atau bidang imajiner ini.

Oh iya, beberapa kamera sudah menyiapkan pengaturan ini sehingga anda tidak perlu lagi buat garis imajiner dalam batok kelapa eh kepala.

Apabila anda masih pemula dalam dunia fotografi dan ogah belajar teknik dan teori lain yang cenderung rumit, terapkan saja aturan ini.

4. Visual weight
visual weight photography
via paulipu.com

Visual weight dalam fotografi enggak merujuk pada berat visual yang dikenal dalam dunia nyata atau dalam Fisika.

Maksudnya begini, sebagai fotografer, anda harus bisa membantu orang-orang untuk memahami makna dibalik foto tersebut.

Dengan kata lain, anda harus bisa memposisikan elemen tertentu pada foto untuk mengarahkan perhatian pemirsa pada objek utama yang di foto.

Yang berarti, aturan visual weight ini bukan saja tentang aturan dasar fotografi tetapi tentang bagaimana anda memadukan entitas seni pada foto yang dihasilkan.

5. Triangles
triangles photography
via pressidium.com

Ini juga termasuk bagian penting lain dalam dunia fotografi. Segitiga hampir mewakili semua bidang yang terlihat pada sebagian besar foto, sadar atau tidak.

Soal segitiga ini, fungsinya hampir mirip dengan poin sebelumnya yakni visual weight. Namun, anda harus bisa melihat bidang-bidang tertentu yang saling terhubung satu dengan yang lain.

Cara ini mengharuskan anda untuk membuat garis-garis imajiner pada foto yang seolah-olah itu ada padahal tidak.

6. Eye-lines
eye lines photography
via expertphotography.com

Apabila anda mengambil foto orang, saran saya sih, coba ambil berdasarkan garis mata. Tips ini dikenal dengan istilah eye-lines.

Garis mata merujuk pada arah mata subjek yang di foto. Ruang negatif [ruang kosong] didepan subjek dikenal sebagai ruang depan.

Cara ini secara tidak langsung membuat foto anda terlihat lebih emosional, menegangkan dan unik.

Meski tidak ditekankan pada garis fisik atau imajiner metode bisa menciptakan elemen visual yang dramatis.

7. Balance
Balance photography
via istockphoto.com

Disadari atau tidak, keseimbangan foto dapat mempengaruhi perasaan seseorang saat melihatnya. Sementara, foto yang tidak seimbang bisa membuat perasaan seseorang jadi tidak nyaman.

Yang berarti, keseimbangan dalam foto bisa membantu seseorang lebih rileks, nyaman dan santai. Memang sih, tidak jadi masalah apakah foto yang anda buat terlihat seimbang atau tidak namun ada baiknya anda memikirkan emosi orang saat mengambil foto.

Sebab, keduanya dapat mempengaruhi foto dan citra gambar. Sekali lagi, ini faktor ini sifatnya situasional.

Karena itu, coba lakukan eksperimen atau buat efek khusus yang mungkin hasilnya lebih bagus.

Penutup

Belajar fotografi sebenarnya tidak semudah yang dipikirkan. Ada banyak hal yang harus anda pelajari mulai dari pengenalan tentang kamera, cara kerja kamera hingga hal-hal teknis lain seperti filter polarisasi atau histogram.

Sekalipun anda sudah belajar dengan keras teori-teori diatas, tidak akan bermanfaat apa-apa jika anda tidak mempraktikannya langsung.

Saran saya, teruslah belajar dan asah kemampuan anda dari sekarang. Demikian artikel tentang panduan dasar belajar fotografi untuk pemula. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda ~

You might like

4 Comments

  1. oh jadi itu cara kerja aperture

  2. artikel yg luar biasa . jelas menerangkannya dan sangat lengkap. Anda pasti orang yang sangat rajin … makasih . salam kenal .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *