Taruhannya Nyawa! Inilah 6 Genre Fotografi Terekstrem Di Dunia

4 Likes Comment
genre fotografi paling ekstrim

Dari sekian banyak genre fotografi, terdapat beberapa genre fotografi terekstrem di dunia. Tingkat ekstrim ini diukur dari bahaya yang timbul serta dampak terhadap fisik ataupun psikis dari aktivitas tersebut.

Perkembangan dunia fotografi saat ini sudah melampaui apa yang diramalkan sebelumnya. Mulai dari peralatan yang digunakan, fitur dan kemampuan kamera hingga pada aliran-aliran keilmuan fotografi.

Dengan kata lain, saat ini ada banyak aliran atau genre dalam dunia fotografi. Genre ini berfungsi untuk menunjukan spesifikasi si fotografer saat menjalankan aktivitasnya tersebut.

Dengan memilih genre fotografi yang tepat, seseorang dapat menentukan peralatan yang digunakan, termasuk jenis kamera dan subjek foto.

Bahkan, lebih jauh lagi, dengan memilih satu genre fotografi saja pada akhirnya membuat si fotografer dikenal sebagai seorang profesional dan unik.

Genre dalam dunia fotografi itu ibaratnya aliran dalam novel, blog atau aliran dalam keilmuan seperti jurusan kuliah yang diambil oleh seseorang.

Misalnya, jika anda mengambil jurusan akuntansi perpajakan, maka anda akan belajar lebih dalam mengenai PPH 21, pajak, retribusi daerah dan lain sebagainya.

Tapi tidak semua genre fotografi itu dilakukan dengan keadaan aman-aman saja. Maksudnya gimana ya? Maksudnya, genre yang digeluti si fotografer mampu menjamin keamanannya sendiri.

Misalnya, genre fotografi model, produk dan lain sebagainya. Tentu saja, selain mereka bekerja di wilayah yang agak ‘expensive’ mereka juga memiliki berbagai peralatan dan perlengkapan yang mendukung aktivitasnya plus subjeknya sudah tahu bagaimana harus berpose.

Tapi beberapa genre fotografi dibawah ini justru sebaliknya. Lebih ekstrem lagi, taruhannya adalah nyawa sendiri.

6 genre fotografi terekstrem di dunia

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, tidak semua genre fotografi mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi fotografer.

Namun tetap saja da fotografer yang ‘keras kepala’ dan bersikukuh untuk mengambil spesifikasi genre ekstrem tersebut.

Lalu apa saja genre fotografi paling ekstrim yang dimaksud dalam artikel ini? Pasti penasaran kan? Nah berikut disajikan artikelnya untuk anda. Ini daftarnya:

1. Fotografi perang [War Photography]

war photography
via fstoppers.com

Dalam perang, segala sesuatu bisa terjadi. Peluru nyasar, bom meletus, target yang salah dan lain sebagainya. Meski ancamannya keamanan sangat tinggi namun banyak fotografer yang terjun ke bidang yang satu ini.

Entah apa yang ada di pikiran mereka saat itu. Tapi yang jelas, mereka ikut terjun ke medan peperangan, bukan dengan senjata melainkan kamera.

Dengan kata lain, mereka bisa mati ditangan musuh. Atau, jika sedang sial, mereka bisa menjadi tawanan perang dari pihak lawan.

Tapi biasanya, fotografer yang mengambil genre satu ini sudah terkoneksi dengan media-media, koran dan majalah tertentu.

Baca Juga : Jual Foto Anda di 5 Situs Ini Dan Dapatkan Jutaan Rupiah

Dimana, hasil fotografi mereka akan dikirimkan dengan tujuan publikasi. Karena tidak mungkin otoritas militer akan mengizinkan mereka ke medan perang secara legal tanpa surat-surat lengkap.

Meski tidak semua fotografer akan ikut dalam pertempuran. Ada juga fotografer yang lebih memilih mengabadikan peninggalan-peninggalan setelah perang.

Seperti misalnya bangunan-bangunan yang sudah roboh, orang-orang yang menjadi korban peperangan dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, tidak ada jaminan keamanan bagi fotografer untuk mengambil genre yang satu ini. Bisa saja pulang tinggal nyawa.

Ada beberapa fotografer yang memilih genre ekstrem yang satu ini mulai dari Roger Fenton, Nick Ut Hingga Margaret Bourke-White.

2. Fotografi bencana [Disaster Photography]

Disaster photography
via twimg.com

Berbeda dengan fotografi perang dengan sumber ancaman utama dari manusia atau pihak musuh, fotografi bencana juga sangat tidak aman dengan sumber ancaman utama dari alam.

Kalau manusia, mungkin rasio keselamatan bisa diprediksi namun bencana, tidak ada yang dapat memprediksinya.

Meski begitu, banyak fotografer yang memilih untuk mengabadikan bencana yang sedang terjadi entah itu banjir, gempa bumi atau mungkin tsunami.

Resikonya sangat besar. Misalnya begini, jika anda mengambil genre fotografi bencana setelah gempa bumi terjadi dan memporak-porandakan suatu wilayah, anda lalu bergegas ke sana.

Padahal, anda tidak tahu kalau-kalau anda gempa susulan yang terjadi, yang mungkin kekuatannya lebih besar dari sebelumnya. Risikonya sangat besar.

Baca Juga : Cara Edit Feed Foto di Instagram Ala Selebgram Awkarin

Saya teringat salah satu kawan saya di Manado, yang pada waktu Gempa bumi dan Tsunami terjadi di Palu, malam itu juga ia berangkat ke sana, meliput dengan motor Matic miliknya.

Padahal, ada kabar yang beredar kalau jalur menuju Palu, tepatnya di Kebun Kopi, tertutup batu-batuan akibat gempa.

Ia tidak ambil pusing, yang ada dipikirannya saat itu adalah mengabadikan momen tersebut. Syukurlah ia selamat dan berhasil mengabadikan ribuan foto yang menyentuh.

Kawan saya itu sudah beberapa kali menjuarai Lomba fotografer. Hasil karyanya juga dijual pada media-media Jerman dan media luar negeri lain. Selama seminggu, hasil dari fotografi bencana itu mencapai $2000 dan semuanya sudah disumbangkan.

Sejak itu, ia lebih condong mengambil genre fotografi bencana. Meski ia tahu risikonya namun ia tetap bersikukuh. Saat gempa terjadi di Maluku pada awal 2019 lalu, ia berangkat ke sana dan melakukan hal serupa.

Dasar hobi! Percakapan terakhir dengan kawan tersebut, ia mengatakan bahwa memilih genre fotografi bencana dengan risiko seperti ini memiliki nilai seni tersendiri.

Visi yang bagus dan kuat. Dan bagi anda yang ingin mengambil genre serupa, ada baiknya anda terlatih untuk memahami bencana jangan sampai keselamatan anda jadi taruhannya.

3. Fotografi alam liar [wild photography]

wild photography
via wikihow.com

Dua genre ekstrim diatas membahas tentang ancaman dari manusia dan ancaman dari alam. Pada nomor tiga ini membahas tentang ancaman binatang buas dan hewan liar.

Saya sering menonton chanel National Geographic yang sering menampilkan gambar-gambar hewan eksotis. Sembari menyaksikan, karena suka dunia fotografi, saya selalu memikirkan, berapa lama untuk mengambil foto tersebut, berapa banyak baterai dan memori yang ia butuhkan dan yang terpenting adalah, apakah keamanannya terjamin?

Baca Juga : 6 Derita Saat Jadi Fotografer Pernikahan di Kampung

Untuk pertanyaan terakhir jawabannya tidak. Coba bayangkan, jika anda mengambil genre fotografi alam liar dengan target subjek adalah ular, beruang atau buaya. Ada jaminan keselamatan gak? Gak ada. Apalagi jika anda bekerja sendirian.

Dengan kata lain, genre yang satu ini juga sangat tidak aman. Meski demikian, ternyata banyak sekali fotografer yang menggeluti genre yang satu ini. Dengan alasan kebebasan dan subjek yang lebih dinamis serta lanskap yang menantang.

4. Fotografi horor [Horror Photography]

horor photography
via paulipu.com

Eh, genre yang satu ini emang ada? Jawabannya ada dan sudah banyak yang menggelutinya. Jadi target subjeknya siapa? Gak tahu, mungkin targetnya adalah setan dan Jin.

Mengapa genre yang satu ini masuk dalam genre paling ekstrem? Jawabannya karena genre yang satu ini bisa memicu penyakit jantung, kecelakaan hingga kematian.

Di Indonesia sendiri, ada beberapa kelompok yang sering melakoni genre fotografi yang satu ini. Bahkan, mereka berhasil mengabadikan sosok-sosok metafisika yang mereka yakni itu Hantu.

Entahlah, apa yang dipikirkan sehingga mereka mengambil genre yang satu ini. Lalu apa ancamannya? Begini. Coba bayangkan, seandainya mereka sedang melakukan sesi pemotretan lalu tiba-tiba mereka melihat sesuatu objek dari layar kamera.

Baca Juga : Cara Agar Bisa Menang Lomba Fotografi

Objek tersebut berupa sosok manusia, dengan ramput panjang atau mungkin sosok metaphisis lain yang jelas itu bukan manusia.

Dan, ajaibnya, objek yang diambil itu bergerak mendekat lalu sang fotografer lari terbirit-birit dan kecelakaan. Syukur-syukur kalau hanya luka di kelingking.

Lantas, dimana letak ekstrimnya? Disitu, dibagian lari-larian tersebut atau saat kaget lalu kena serang jantung atau ayan. Tiba-tiba ‘offside’ gimana?

Namun jangan salah sangka, genre yang satu ini perkembangannya cukup massif meski masih dilakukan sembunyi-sembunyi. Apalagi, banyak masyarakat terutama kaum milenial yang sudah tidak mempercayai hal-hal mistik macam itu.

Karena penasaran, mereka menekuninya. Semakin ditekuni, semakin penasaran, yang justru bisa membahayakan diri sendiri dan mungkin juga orang lain.

5. Forensik fotografi [Forensic Photography]

forensic photography
via alignable.com

Memang, tingkat bahaya untuk genre yang satu ini tidak teralu tinggi namun cukup mengkhawatirkan terutama bagi yang trauma melihat darah misalnya.

Biasanya, fotografer yang menekuni genre yang satu ini adalah fotografer yang sudah terlatih dan mungkin berasal dari Kepolisian atau Lembaga forensik lain.

Yang menurut saya ekstrem adalah misalnya, saat terjadi misalnya pemb*nuhan, mereka akan mengambil sampel foto, TKP dan lain sebagainya untuk digunakan sebagai laporan dan berkas persidangan.

Dengan kata lain, mereka harus mengambil foto korban dengan perut terb*rai misalnya, atau mengambil sampel korban yang sedang kecelakaan dengan darah yang bersimbah dimana-mana. Tentu ini ekstrem sekali.

Jika gak tahan, maka bisa saja muntah-muntah kek orang hamil. Apalagi jika anda termasuk fotografer pemula yang menekuni genre tersebut. Mengerikan memang!

6. Fotografi atap rumah [Rooftopping photography]

rooftopping photography
via tomryaboi.com

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak fotografer terlebih kamu muda yang menyukai genre yang satu ini. Entah apa alasannya yang jelas, fenomena ini telah di sebut oleh Psikolog sebagai ‘pencari sensasi’.

Tentu anda sudah tahu kan apa yang ekstrem dari genre fotografi yang satu ini? Jadi, saya gak perlu jelaskan panjang lebar.

Genre yang satu ini di populerkan oleh seorang anak muda asal Toronto, Amerika Serikat yakni Tom Ryaboi. Dalam foto-fotonya, ia terlihat berada di atas gedung, sembari melakukan aktivitas fotografinya.

Dan yang paling menarik disini rata-rata mereka yang melakukan aksi semacam ini tidak punya izin dari pemilik gedung.

Di Indonesia sendiri, genre yang satu ini mulai berkembang. Namun karena keterbatasan dan akses ke gedung yang terbatas sehingga mungkin jarang sekali terekspos.

Penutup

Menekuni satu genre fotografi saja adalah hal yang sangat penting. Selain untuk bias meningkatkan kemampuan fotografi, juga untuk membantu meningkatkan profesionalitas fotografer.

Namun banyak yang kemudian memilih genre yang tak lazim dengan tujuan yang khusus meski pada dasarnya harus mengorbankan waktu dan mungkin juga nyawa.

Nah demikian artikel tentang 5 genre fotografi paling ekstrim di dunia. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda ~

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *