6 Derita Saat Jadi Fotografer Pernikahan di Kampung

12 Likes Comment
foto nikah

Jadi fotografer itu gak enak apalagi jika menjadi fotografer pernikahan di kampung-kampung. Percaya gak? Jika gak percaya baca artkel ini tentang 6 derita saat jadi fotografer pernikahan di kampung-kampung.

Ada banyak genre dalam dunia fotografi mulai dari genre yang serius seperti fotografi makro hingga genre fotografi pernikahan. Setiap aliran fotografi ini membutuhkan kemampuan dan teknis khusus termasuk juga kamera yang digunakan.

Sekarang, untuk bisa disebut sebagai fotografer professional, ada banyak hal yang dibutuhkan mulai dari kamera, studio, aliran dan pengakuan.

Bagian pengakuan ini sebenarnya adalah bagian yang paling sulit. Sebab dibutuhkan kerja keras yang tidak sedikit. Selain itu juga, hasil karya anda sudah banyak. Dengan kata lain, jam terbang anda sebagai fotografer sudah tinggi.

Tetapi ternyata tidak semua perjalanan sebagai fotografer itu mulus. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Bahkan dalam keadaan tertentu membuat kita elus-elus dada, tertawa hingga mungkin berpikir untuk buat berhenti saja menjadi seorang fotografer.

Tapi hal itu justru menghilangkan semangat anda sebagai seorang seniman foto. Hobby tidak bisa dihilangkan, apalagi bakat. Ia melekat. Oleh karena itu, hal-hal seperti itu harusnya dijadikan pelajaran agar bisa mengontrol diri dan bekerja lebih baik lagi di masa mendatang.

Deritas Saat Jadi Fotografer Pernikahan

Menjadi fotografer pernikahan adalah pilihan. Banyak fotografer yang ingin menggeluti bisnis ini karena termasuk bisnis modern yang menguntungkan.

Meksi cukup menguntungkan, tapi menjadi fotografer pernikahan sangat menantang. Karena terlalu menantang, maka sudah cukup lah disebut derita.

Baca Juga : Definisi Fotografi Dan Sejarahnya

Apalagi jika menjadi fotografer dari desa ke desa. Tantangannya lebih hebat, bahkan bisa bikin fotografer emosi sendiri saat pulang ke rumah. Tapi ya namanya kerjaan, mau gimana lagi.

Jadi, apa sih yang menjadi derita saat menjadi fotografer pernikahan? Pasti udah gak sabar kan? Nah berikut disajikan 6 derita saat menjadi fotografer pernikahan. Ini dia daftarnya:

1. Banyak Hpgrafer

Anda sudah pasti tahu kalau saat ini sebagian besar punya kamera. Kamera yang kecil-kecil atau dari smartphone dan ini menjadi derita yang paling bikin jengkel fotografer.

Misalnya, saat momen akad nikah atau momen foto bersama keluarga, sebagian besar tamu undangan yang hadir tiba-tiba menjadi seorang fotografer dadakan. Bukan fotografer sih, lebih telah disebut hpgrafer. Modal kamera hp doang, lalu cengkret sana sini.

Sebutan ini sebanarnya dibuat khusus buat mereka yang pengen mengabadikan momen tersebut lewat dari HP mereka.

Baca Juga : 28 Aliran dan Genre Dalam Dunia Fotografi

Bukan itu sebenarnya yang bikin jengkel, karena mereka juga pengen mengabadikan momen serupa. Tetapi karena jumlah mereka yang buanyak banget sehingga terlihat berdesak-desakan sehingga pas fotografer benaran mau ambil foto eh ada gangguan di depan.

Bisa berupa kepala nongol, tangan nongol ke atas dan lain sebagainya. Padahal, pada tersebut foto akan terlihat lebih bagus karena angle sudah pas.

Sehingga fotografer harus mengalah lalu mencari ruang yang bebas dan tanpa gangguan di pojok kanan atau kiri agar momen itu tetap bisa di ambil tanpa gangguan.

2. Tiang pengganggu

derita fotografer kampung

Sebagai seorang fotografer, menghindari gangguan di sekitar subjek adalah hal yang wajib dilakukan. Tapi, terkadang menghilangkan gangguan saat menjadi fotografer pernikahan gak mungkin dilakukan.

Baca Juga : Daftar Aplikasi Edit Foto Terbaik Saat Ini Untuk Android

Alasannya sederhana, karena terkadang, pada saat acara terdapat tiang yang posisinya tepat didepan pelaminan. Kebayang kan betapa mengganggunya tiang ini. Selain bisa menggangu saat proses pengambilan foto juga bisa mengurangi kualitas foto.

Yang bikin sedih lagi tiang itu gak bakalan dipindah apalagi dihilangkan. Kalau dipindah tentu saja tenda pernikahan akan ambruk.

3. Ruang yang sempit

pernikahan di kampung
via hipwee.com

Ini masih berhubungan dengan yang nomor dua diatas. Namun lebih jengkel lagi, karena biasanya, saat resepsi pernikahan, ruang yang digunakan itu sempit. Sehingga,

fotografer harus berdesak-desakan dengan orang lain, keluarga, hpgrafer dan benda-benda lain untuk bisa mengambil foto yang bagus.

Baca Juga : Cara Memulai Bisnis Fotografi Sendiri di Rumah

Fotografer perlu jarak dengan subjek foto, alias mereka yang akan menikah tersebut, namun karena ruangnya sempit maka pandangan akan sempit.

Sehingga, terkadang ada wajah terpotong yang nongol di bagian sudut kiri atau kanan foto yang sesungguhnya dapat merusak kualitas foto secara drastis.

4. Warna tenda yang kontras

Kadang-kadang, saat pernikahan, dekorasi yang digunakan sangat kontras dan biasanya menggunakan warna-warna yang terang, seperti warna merah muda, ungu dan lain sebagainya. Ini belum ditambah dengan terpal atau penutup tenda dengan warna yang juga dominan.

Lalu apa dampaknya buat fotografer? Buanyak gan. Misalnya begini, jika resepsinya siang maka tentda pernikahan itu akan terpapar sinar matahari. Saat tenda pernikahan terpapar sinar matahari secara tidak langsung akan ambient.

Baca Juga : Cara Melindungi Foto dan Gambar Karya Anda di Internet

Ini sebenarnya merupakan cahaya berwarna yang timbul dari dalam kamera akibat lensa yang tidak bisa menangkap warna kontras. Coba tebak warna ini berasal dari mana? Tenda dan tenda.

Sehingga jika dilihat dari dalam kamera, lensanya akan terlihat berwarna warni. Dan ini menggangu banget.

Dampaknya adalah, fotografer bakalan kesulitan bisa mengatur kamera agr sesuai dengan kondisi pencahayaan saat itu. Bahkan jika terpaksa harus mengambil foto, foto yang dihasilkan didominasi oleh satu warna saja, kek kepiting rebus.

5. Kalau Hujan

Fotografer pernikahan di kampung

Jadi nih, kalau mao nikah apalagi nikahnya di kampung ada baiknya antisipasi hal-hal kaya ginian ye. Apalagi sedang musim pancaroba saat ini, yang kadang panas kadang hujan.

Dan ini bisa menjadi salah satu derita terbesar menjadi seroang fotografer pernikahan di desa-desa. Misalnya begini, saat acara sudah mulai berjalan eh tiba-tiba hujan deras lalu terjadilah banjir disekitar acara pernikahan. Ini seperti tamu yang tidak diundang. Datang nanti acarnya udah mulai selesai lalu bikin onar sehingga acara bubar.

Baca Juga : Jenis-Jenis Kertas Foto Yang Umum Digunakan

Namun keadaan ini gak membuat fotografer ikut bubar. Ia harus tetap sigap lakukan tugasnya yang mahaberat dan mahabecek tersebut. Cekrek sana, cekrek sini, cekrek wajah situ meskipun celananya sudah dilipat sampai lutut takut kena air.

Kalau celana masih bisa diantisipasi. Coba kalau banjir [lebih cocok sih air tergenang] dalam, sampai pinggang gimana coba? Sayang banget penampilan necis tadi harus rusak. Mana sepatu sama kaos kaki masih baru lagi, nasib-nasib.

6. Durasi waktu gak menentu

pernikahan di kampung
via rideralam.com

Menjadi fotografer penikahan itu gak kenal waktu. Beda dengan acara resepsi pernikahan seperti di kota-kota, di hotel atau di gedung-gedung yang biasanya hanya berdurasi gak lebih dari 5 jam.

Tapi, kalau pernikahan di kampung-kampung, atau di desa bisa berdurasi tak terbatas. Dari subuh hingga subuh lagi, acara belum kelar.

Baca Juga : Jual Foto anda di 5 Situs Ini Dan Dapatkan Honor Jutaan Rupiah

Misalnya dari akad hingga resepsi dan acara bersama. Karena itu, fotografer biasanya harus tetap stay untuk mengabadikan moment demi momen selama pernikahan berlangsung.

Sehingga terkadang harus pergi pagi pulang pagi. Oh iya, rata-rata fotografer pernikahan juga gak membuthkan foto-foto praweding sih. Bagi mereka acara yang penting.

Penutup

Banyak tantangan yang harus diahapi saat menajdi seorang fotografer pernikahan. Tantangan-tantangan seperti inilah yang sebenarnya membuat seorang fotografer itu belajar tentang seni sebenarnya. Nah demikian artikel tentang 6 derita saat menjadi fotografer pernikahan. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. [Sumber]

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *