Literasi Bukan Hanya Calistung

1 Like Comment
calistung

Berbicara tentang literasi, kita tidak boleh hanya berbicara mengenai kemampuan individu dalam membaca, menulis dan menghitung atau calistung tapi juga kemampuan literasi finansial, budaya dan juga digital atau non-digital.

Dalam kehidupan sehari-hari, literasi mengambil peran yang sangat penting sejak dulu. Literasi masa lampau sudah ditemui dengan mudah melalui catatan-catatan, puisi-puisi batu, perkamen, prasasti dan lain sebagainya.

Setelah industri pulp dan kertas ditemukan di oleh Hakim Tsa’i Lun di Cina, peradaban manusia mengalami perkembangan yang signifikan.

Dan kini, saat revolusi Industri 4.0 mulai merambah sektor produksi barang dan jasa, peran literasi telah maju selangkah dan lebih dekat lagi dengan manusia.

Mulai dari birokrasi di Jakarta hingga petani-petani di Unawatan Papua sudah terbiasa dengan teks. Lebih lagi, saat hadirnya dunia digital berbasis teks dan visual seperti Google, Facebook hingga Go-Jek.

Semuanya melibatkan angka dan huruf. Angka dan huruf merupakan elemen paling utama dan paling sederhana untuk memahami literasi.

Sayangnya, meskipun hubungan antara literasi dan manusia itu sangat erat, kualitas literasi manusia belum maksimal termasuk juga di Indonesia.

Survey PIACC pada tahun 2016 misalnya, menyebutkan tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang di survey. Sebuah posisi yang rendah yang bisa menjadi indikator kualitas Sumber Daya Manusianya [SDM].

Tapi itu kan sudah beberapa tahun lalu, kan? Yang berarti, data tersebut sudah usang dan tidak lagi relevan dengan perkembangan sekarang.

Pendapatan ini justru bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Tidak ada perubahan yang signifikan mengenai tingkat literasi orang Indonesia.

PICA, sebuah lembaga independen tentang literasi pada tahun 2017 dan 2018 lalu juga menyebutkan peringkat indonesia berada di posisi terendah, bahkan lebih buruk ketimbang tahun 2016.

Lebih parah lagi, UNESCO, sebuah organisasi dibawah naungan PBB yang mengurusi soal pendidikan, sains dan budaya dunia, menyebut hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang rajin baca buku.

Kata rajin sebenarnya lebih mengacu pada rutin. Dimana, kegiatan itu dilakukan secara secara terus menerus, teratur dan tidak berubah-ubah.

Literasi di Indonesia

Fakta dan data diatas seolah menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang di Indonesia, bahwa harus ada usaha konkret untuk meningkatkan minat literasi di Indonesia.

Pemerintah, pada tahun 2017 lalu sudah melakukan langkah yang prestisus. Dimana, Presiden Jokowi meminta agar jasa pengiriman barang, dalam hal ini Kantor POS, agar menyiapkan satu hari saja agar masyarakat bisa mengirim buku gratis.

Ide ini ternyata disambut baik oleh para pegiat literasi, para penyintas pendidikan di pedalaman hingga pemilik toko buku.

Yang berarti, akses pada buku akan lebih mudah. Begitu juga soal ekonomi makro dalam dunia percetakan yang akan mengalami peningkatan akibat hal ini.

Tapi, masalah sesungguhnya disini bukanlah soal bagaimana akses buku itu tercapai, tapi bagaimana mendekatkan buku kepada masyarakat.

Meskipun sebagian masyarakat sudah tahu, bahwa literasi itu bukan hanya soal baca buku dengan rutin, bagaimana memahaminya sebagai aspek terpenting dalam peningkatkan sumber daya manusia yang bersaing.

Literasi bukan hanya calistung

Harus diakui juga, literasi bukan hanya soal Baca, tulis dan hitung [calistung] tetapi lebih daripada itu. World Economic Forum, menyebutkan bahwa ada 6 jenis literasi, antara lain:

1. Literasi baca dan tulis

Merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh individu sejak kecil. Kemampuan ini bisa diperoleh lewat keluarga, lingkungan dan pendidikan sekolah.

2. Literasi numerik

Pada dasarnya, literasi numerik atau angka merupakan kemampuan individu dalam membaca angka-angka numerik, termasuk didalamnya simbol-simbol.

3. Literasi sains

Kemampuan individu untuk mengindentifikasi dan menjawab pertanyaan dengan logis, masuk akal dan tidak berdasarkan opini semata.

4. Literasi finansial

Kemampuan individu untuk mengolah kecakapan dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

5. Literasi budaya dan kewarganegaraan

Kemampuan individu untuk memahami dan melestarikan budaya yang ada disekitarnya, di wilayah tempat ia tinggal termasuk dalam kategori kelompok budaya yang paling besar yakni negara.

6. Literasi digital dan non-digital

Kecakapan dalam menggunakan alat-alat digital dan non-digital untuk memperoleh kemampuan baru terkait dengan dunia yang ada disekitarnya lewat teknologi.

Kelima literasi diatas memiliki peran masing-masing dalam upaya meningkatkan taraf dan nilai sumber daya manusia. Yang paling penting adalah literasi baca dan numerik.

Namun, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan literasi di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah. Butuh keterlibatan semua pihak, terlebih orang tua.

Cara meningkatkan literasi dalam keluarga

literasi dalam keluarga
Literasi dalam keluarga bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti membaca buku dongeng bersama dengan anak via popmama.com

Banyak yang tidak menyadari, kalau rendahnya literasi orang Indonesia itu disebabkan oleh faktor kebiasaan, yang sudah dimulai sejak kecil.

Anak-anak yang memiliki orang tua dengan latar belakang pendidikan memadai [SMA dan perguruan tinggi] cenderung memiliki anak dengan tingkat literasi yang cukup baik.

Sementara, anak dengan orang tua dengan tingkat pendidikan yang rendah [SD dan SMP] adalah sebaliknya. Ini adalah fakta, yang harus segera di seriusi.

Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk meningkatkan literasi dalam keluarga, antara lain:

1. Mendekatkan anak dengan buku-buku

Pada usia 3 tahun, otak anak sudah 80% seperti orang dewasa. Yang berarti, tahap ini adalah tahap yang ideal untuk mendekatkan anak dengan buku-buku.

Orang tua bisa membelikan buku-buku gambar, rambu-rambu lalu lintas, bendera-bendera negara dan lain sebagainya.

Perlu juga diketahui bahwa tujuan mendekatkan anak dengan buku bukan saja agar anak bisa mengeja atau menyebutkan kata atau kalimat yang terdapat pada buku dengan bantuan orang tua, melainkan untuk mengajari kebiasaan membaca.

2. Mengajari membaca, menulis dan menghitung

Jika anda sudah memiliki kedekatan dengan buku, ia akan cenderung mencarinya kemudian. Oleh karena itu, momen macam ini harus bisa dimanfaatkan oleh orang tua.

Caranya? Cukup sederhana. Orang tua mulai mengajari anak membaca, menulis atau menghitung. Disini juga akan terjalin hubungan emosional antara anak, orang tua dan buku-buku.

Pada prosesnya, anda harus terlibat. Misalnya dengan duduk lalu membaca buku bersama dengan sang anak.

3. Membelikan buku-buku cerita

Karena otak anak masih dalam tahap perkembangan, sejak dini orang tua bisa membelikan buku-buku cerita, misalnya pahlawan-pahlawan dan kisah hidup.

Bisa juga tokoh-tokoh kartun, yang kelak bisa menjadi motivasi utama untuk terus membuka buku tersebut lalu melihat isi didalamnya.

4. Membacakan ia buku saat tidur

Banyak orang indonesia yang belum memiliki kebiasaan macam ini. Pandangan soal ini pun berbeda-beda. Padahal, ini sangat penting untuk meningkatkan literasi sang anak.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, rendahnya literasi indonesia bukan karena akses terhadap buku yang kurang memadai, melainkan tidak adanya kebiasaan berliterasi sejak kecil. Kebiasaan berliterasi ini bisa dimulai dengan membaca, menulis dan menghitung [calistung].

Tapi, meskipun tuntutan agar meningkatkan prevalensi literasi di Indonesia, harus juga disadari bahwa tidak semua punya akses terhadap buku.

Masih ada saudara-saudari kita di Papua yang kesulitan memiliki buku. Bahkan, yang mereka tahu buku hanyalah buku tulis, teka-teki silang hingga teks-teks lain.

Ada juga anak-anak di Pesisir Bahowo yang hanya bisa sekolah di ‘Sei Pante’ karena gedung sekolah yang rapuh dan berbahaya. #Sahabatkeluarga #LiterasiKeluarga (***)

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *